Pesona Kasih Pemilik Semesta.
Angin senja perlahan menerobos sela kayu yang teranyam rapi dan menjadi pelindung gubuk kami. Dari luar rumah, terdengar suara ketokan yang begitu pelan. Suaranya yang pelan bukan karena takut mengganggu istirahat siapapun yang berada di dalam rumah, melainkan karena pangkal pintu yang telah lapuk oleh kerikit-kerikit binatang kecil, mengharuskan siapapun yang hendak masuk agar berhati-hati membukanya. Aku kecil bergegas menuju pintu dan mendapati wajah lelah ayah yang ditutupi sebuah senyuman, seolah ingin mengelabuhi letih yang menderanya. Tubuh yang penuh dengan keringat sehabis meladang, mengharuskan agar segera bebersih. Untunglah aku sudah memompakan bak air untuk ayah.
Selepas isya selesai belajar ayah selalu memanggilku. Memintaku untuk memijit tubuhnya. Sekedar mengurangi letih setelah seharian bekerja. Ini adalah momen yang selalu kutunggu. Ketika aku memijitnya, seringkali ayah bercerita tentang masa mudanya yang penuh tantangan memperjuangkan ilmu agama. Terkadang juga diselingi candaan segar, hingga tergelaklah kami sekeluarga. Begitulah cara ayah menyejukan keluarga kami. Menghibur dengan cara yang sederhana. Tanpa televisi dan hanya ada satu radio kecil yang biasa dipakai ayah menunggu kabar negara. Sebenarnya ayah bukan dari keluarga yang tak mampu, hanya saja ayah memang tak mau berkecimpung dengan harta warisan milik kakek, " biar untuk bapak dan saudara saja ", ujar beliau setiap kali nenek menawarkan bantuan, mungkin prihatin melihat keadaan ekonomi keluarga kami kala itu.
Semenjak umur yang ke 22 tahun, ayah merintis tempat pembinaan Qur'an di desa, meski tanpa imbalan materi ayah tak pernah berhenti memperjuangkan apa yang di cita-citakanya. Merekatkan agama di hati anak bangsa. Tak perduli siapa yang ia hadapi, mata ayah tetap terpancar menatap santri yang berjejer rapi menunggu bermuawajahah bersama ayah.
Derap kaki tetap tegap dan pasti, meski hujatan dan cibiran sering kali menghinggapi. Semua dilakoni ayah bukan karena beliau tak mampu bekerja atau tak berkeinginan memperbaiki ekonomi keluarga. Semua karena cinta ayah kepada cita-citanya.
Setiap hari kecuali Jum'at, ayah menunaikan abdi agama. Mengajar santri desa dengan penuh semangat. Dan ketika libur, ayah begitu jarang terlihat berbaring di dipan kayu dalam bilik, sering kali ayah bermalam di sawah untuk mengaliri padi dan sayuran. Berharga. karena sawah ini adalah satu-satunya harta ayah untuk menafkahi keluarga. Setiap panen, ayah menjual sayur ke pasar. Sesekali kudapati ayah membawa kembali dagangannya yang masih utuh. Pulang dengan tangan kosong namun tetap memancarkan senyuman. "Ini rezeki tetangga" kata ayah menghibur ibu yang iba dan setengah putus asa.
Semakin lama keadaan ekonomi keluarga semakin miris, hingga ayah harus menjual ladang demi memenuhi kebutuhan, juga untuk menutupi gerbil-gerbil gubuk yang sudah melebar lubangnya. Keadaan ini menjadikan ayah dilema cukup lama hingga ayah memutuskan merantau. Alhamdulillah, keadaan ekonomi keluarga terus membaik. Di tempat baru, ayah juga tetap berbagi ilmu dengan masyarakat disana. Namun sayang, semenjak ayah merantau, di masjid desa kami hampir tak terdengar suara adzan. Akhirnya ayah memutuskan balik kanan dan memilih melanjutkan perjuangan di kampung halaman.
Tak lama ekonomi keluarga kembali menipis bahkan hampir kekurangan. Meski demikian, ayah tak pernah meluputkan putra putrinya dari dunia pendidikan. Ketika ada kebutuhan yang mendesak sering kali ayah merogoh celengan dari hasil beliau membersihkan tempat cuci kaki di masjid. Kerap kali ayah juga menyisihkan rupiah dari upah tetangga yang terkadang membutuhkan bantuan.
Menjelang kelulusan SMP saya mendapat tawaran beasiswa sekolah sampai perguruan tinggi dari sebuah kantor berita. Juga mendapat tawaran bergabung bersama mereka. Tentu ini adalah hadiah istimewa bagi saya, karena saya berharap segera membantu ekonomi keluarga yang terbelit kekurangan. Namun ayah lebih memilih saya masuk pesantren dan memperdalam ilmu agama.
Tak ada materi yang lebih istimewa dari ridho ayah. Bismillah, saya mulai mengenyam pendidikan SMA di pesantren.
Berbagai prestasi dari sekolah dan madrasah diniyah turut mewarnai lembar kisahku. Alhamdulillah, saya menyelesaikanya di tahun 2016 dengan prestasi Madin terbaik angkatan. Sebelumnya saya sempat ditawari untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Mesir. Namun ayah menanggapinya hanya dengan sebuah pesan, " Tetaplah dekat dan tawadhuk seperti Fatimahnya Nabi Muhammad ". Tak perlu berbelit dan menimbang angan, karena bagiku semua yang dialurkan ayah tentu lebih membuatnya bahagia dan berujung pada kehidupan yang lebih diridhoi Allah.
Sebiji kenari tampak menari di awang langit yang membentang, bak mimpi yang sempat menggebu dalam diri harus terdiam dalam kertas putih milik taqdir. Ya.. Kembali merajut mimpi. Meski sempat terusap kecewa, nampak kristal yang berkilauan meliputi keyakinan dalam sukma. Membiaskan harapan bahwa akan ada yang lebih istimewa dari rencana sebelumnya.
Sendal yang kupakai menjadi teman setia setiap lampahku. Aku pun memilih tinggal di pesantren dan menunaikan abdi santri. Perjalananku terasa kian memanjang, memaksa nuraniku mengungkap dahaga dalam sukma. Menggiring jemariku membuka lembaran suci sembari melafazkanya. Entahlah, aku tak ingin jauh, ingin terus kupeluk sebab rinduku tak menemui rasa ingin terhenti. Sejak saat itu, aku memutuskan mengikatnya dalam qalbu dengan menghafal kalam-kalam cinta-Nya.
Syukur tiada terlukis atas hidayah menjaga kalam Allah yang tak pernah terencana oleh diri. Sekilas saya memutar angan, mengandaikan jika kala itu saya salah mengambil pilihan belum tentu hidayah ini sudi menghinggap dalam qalbu abdi.
Semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang menerpa. Hidup sebagai santri yang identik dengan tawaduk dan tunduk mengajarkanku agar tak mengelak di setiap perintah Kyiai. Disamping masih bergelar santri yang haus ilmu, saya di amanahi mengajar diniah kelas pertama dan mengelola keuangan santri. Jam yang padat dengan tugas, tak menepis mimpi dalam diri. Menghafal Kitabullah. Setiap pagi saya menyiapkan tulisan kecil berisi ayat-ayat Al-Qur'an yang kemudian saya lipat dan saya selipkan di balik hijab. Karena, saya hanya memiliki satu Qur'an besar sedangkan kegiatan begitu padat dan tidak memungkinkan bagi saya hilir mudik membawa qur'an dari asrama ke kantor. Hanya saja, saya harus sangat berhati-hati agar secarik kertas suci tetap terjaga rapi. Sembari beristirahat sejenak di sela membuat laporan keuangan, kuambil lipatan kecil di balik jilbab dan mulai menghafalnya perlahan. Malam hari, sesuai diniah dan kegiatan pesantren barulah saya mengumpulkan puing-puing ayat yang ku hafal dalam sehari. Kemudian berlanjut murojaah di sepertiga malam. MasyaAllah, nikmat mana lagi yang kau dusatkan.
Satu tahun dari pesan ayah, beliau meminta saya meneruskan menghafal di Kampus Entrepreneur Penghafal Qur'an ( KEPQ ) dari beasiswa Yayasan Nurul Hayat. Alhamdulillah, tantangan hidup lebih terleraikan di kampus ini. Pembelajaran kekuatan, motivasi dosen dan pembimbing hafalan semakin menjadi perekat niat dengan mimpi.
Pada zaman yang serba mewah ini, saya sangat bersyukur atas nikmat bahagia meski dalam keterpurukan masa kecil yang tak setiap orang bisa merasakanya. Ayah hebat yang tak butuh materi untuk kaya, kebahagian yang diraih hanya dengan doa dan terus menenun serat-serat harapan yang bermuara pada taqwa dan merindu Ridho-Nya. Bahkan dalam pelukannya ketika hari wisuda KEPQ, ayah hanya menyampaikan " Nak, tak ada yang ayah pinta darimu selain jadilah sholihah sampai surga ".
Sholihah Sampai surga. aksara singkat namun terukir indah di cakrawala jannah. Jabatan tanpa pangkat namun harum menawan di singgasana surga.
Kaki terus beralun dalam ikhtiar, menyemikan kabut keraguan yang kini menjadi taman sejuk nan menenangkan. Dewasaku terasa begitu damai dibimbing takdir-Nya. Menikmati alur dengan ikhlas dan sabar. Jika dahulu ikhlas adalah penenang dari keterpaksaan kini ia sebagai keberuntungan yang ingin terus ku perjuangkan. Jika dahulu sabar adalah penenang akhir dari tangisan kini ia ibarat permulaan di setiap senyuman. Karena darinya, saya merasa tak berjarak dengan ridho Allah. Menjadi bekal yang mengantarkan diri menuju kesejatian cita-cita Sholihah yang istimewanya berlanjut di alam surga. InsyaAllah.
Dekatilah Tuhanmu maka yang dimiliki Tuhanmu akan mendekat denganmu. Maqolah singkat yang menjadi pedoman cita-citaku. Begitulah kehidupanku saat ini, tenang berbagi ilmu di sebuah pesantren milik yayasan Nurul Hayat yang lengkap dengan fasilitasnya. Darinya, terbukalah kesempatan mengutarakan kenikmatan sinar hidayah yang saya harap tak putus dan terhenti sampai disini.
Goresan pena ini tentu tak mampu menuliskan semua rasa syukur dalam diri Abdi. Dari tulisan kecil ini, semoga bisa memercikan syukur pula kepada pembaca. Meski terkadang hikayat hidup tak selaras dengan yang difikirkan, InsyaAllah syukur dalam ikhtiar menjadikan lapangnya hati dan senantiasa merasa kaya akan hidup yang terbingkai dalam kasih sayang Sang Pemilik Nyawa. Wallahu a'lam semoga bermanfaat.
Tuban, 25 Juli 2019
Laily Ma'rufatul Hidayah.
Allahumma sholli Wasallim Wabaarikh 'alaa Sayyidina Muhammad
Semoga bermanfaat,
Mohon fatihah untuk kami agar di ridhoi Allah Subhanahu wa Ta'ala
Comments
Post a Comment