Hijrahku di Saktahkan Cinta.
Cinta.. Semua orang bisa mencium aromanya, namun tak semua bisa menikmati.
Dalam perjalanan yang panjang, ia juga seperti air dari kejauhan. Seakan diri ingin bergegas untuk segera menggapai demi melenyapkan dahaga.
Begitulah wujud ujian Cinta. Hadirnya tak ingin berhenti. Begitu memikat hingga hati ingin sekali terikat. Begitu indah hingga kabarnya menjadi penyebab gundah.
Keindahanya yang merekah terkadang buat kita terjebak di lingkup pemikiran yang salah. Terkadang kaki tak sengaja berjalan terlalu jauh dan acuh pada nurani yang sedang berkeluh.
Padahal, menantinya dalam kesabaran adalah hal yang paling nikmat. Adakah yang lebih mengagumkan dari penantian yang suci?. Ikhlas Merindu tanpa tahu yang di rindu. Ikhlas menjaga tanpa tahu untuk siapa hati itu terjaga. Ikhlas menyiapkan diri untuknya agar menjadi penenang dalam rumah tangga, tanpa tahu pada siapa ia akan melabuhkan pengabdian. Ikhlas menutup raut wajah dan senyum untuknya, tanpa tahu teruntuk siapa ia menjaga.
Bukankah tingkat Cinta yang paling tinggi adalah ikhlas?
Rasa lelah menjaga dalam penantian memang terkadang hadir dan menggoyahkan sukma. Ingin sekali segera tersampaikan, dibalik rasa yang teramat kalup dengan rindu, ada usapan nurani yang menangkan hati. Meyakinkan tentang hakikat pertemuan suci telah menanti.
Mengingatnya...
Kisah Asma binti Abu Bakar.
Ia yang terbiasa merawat kuda yang menjadi satu satunya harta milik suaminya Zubair. Bukan mudah untuk mendapatkan pakan kudanya, perjalanan 5 km menjadi rutinitas. Bukan hanya perjalanan yang panjang karena Madina bukan pedesaan dengan ladang yang hijau, melainkan padang pasir yang gersang. Suatu ketika dalam perjalananya mengambil kurma yang bijinya ia tumbuk sebagai pakan kuda, Ia mendapat tawaran tumpangan dari Rasulullah SAW. Siapa yang mau melewatkan tawaran Rasulullah semulia mulianya Makhluk ? Namun Asma Binti Abu Bakar menolak dan mengatakan "Zubair suamiku pencemburu". Dan memilih melanjutkan perjalanan dengan membawa kurma yang ia panggul di pundaknya.
Betapa tulusnya ia menjaga suaminya yang tak berharta lebih, menjaga kehormatan diri dan menjaga yang dimiliki suami tanpa pamrih.
Dawuh Rasulullah
(Wallahu a'lam)
Untukmu yang benar benar menjaga dan sabar dalam penantian.. Izinkanlah nuranimu menyampaikan.. Anggaplah penantianmu sebagai jalan indah Rabb memberi pahala lebih atas kesabaranmu dalam menanti, jalan Indah Rabb membelajari diri sebelum benar-benar menjaga yang haq suatu saat nanti..
Dan merujuklah...
Betapa Romantisnya Rabb.. Membelajari ku tanpa materi, namun dengan lembut menguatkanku untuk menjaga hati. Menata dan menyiapkanku sebelum Rabb sampaikan kepada yang sejati.
Yakinku Ya Allah... Untuk apa semua ini, jika bukan jalan-Mu agar hamba berada di jalan wanita taat yang Telah Kau Siapkan Syurganya.
Wallahu a'lam
Laahaula walaa quwwata illaa billaah
InsyaaAllaahu Aaminiin
Laily Ma'rufatul Hidayah.
Dalam perjalanan yang panjang, ia juga seperti air dari kejauhan. Seakan diri ingin bergegas untuk segera menggapai demi melenyapkan dahaga.
Begitulah wujud ujian Cinta. Hadirnya tak ingin berhenti. Begitu memikat hingga hati ingin sekali terikat. Begitu indah hingga kabarnya menjadi penyebab gundah.
Keindahanya yang merekah terkadang buat kita terjebak di lingkup pemikiran yang salah. Terkadang kaki tak sengaja berjalan terlalu jauh dan acuh pada nurani yang sedang berkeluh.
Padahal, menantinya dalam kesabaran adalah hal yang paling nikmat. Adakah yang lebih mengagumkan dari penantian yang suci?. Ikhlas Merindu tanpa tahu yang di rindu. Ikhlas menjaga tanpa tahu untuk siapa hati itu terjaga. Ikhlas menyiapkan diri untuknya agar menjadi penenang dalam rumah tangga, tanpa tahu pada siapa ia akan melabuhkan pengabdian. Ikhlas menutup raut wajah dan senyum untuknya, tanpa tahu teruntuk siapa ia menjaga.
Bukankah tingkat Cinta yang paling tinggi adalah ikhlas?
Rasa lelah menjaga dalam penantian memang terkadang hadir dan menggoyahkan sukma. Ingin sekali segera tersampaikan, dibalik rasa yang teramat kalup dengan rindu, ada usapan nurani yang menangkan hati. Meyakinkan tentang hakikat pertemuan suci telah menanti.
Mengingatnya...
Kisah Asma binti Abu Bakar.
Ia yang terbiasa merawat kuda yang menjadi satu satunya harta milik suaminya Zubair. Bukan mudah untuk mendapatkan pakan kudanya, perjalanan 5 km menjadi rutinitas. Bukan hanya perjalanan yang panjang karena Madina bukan pedesaan dengan ladang yang hijau, melainkan padang pasir yang gersang. Suatu ketika dalam perjalananya mengambil kurma yang bijinya ia tumbuk sebagai pakan kuda, Ia mendapat tawaran tumpangan dari Rasulullah SAW. Siapa yang mau melewatkan tawaran Rasulullah semulia mulianya Makhluk ? Namun Asma Binti Abu Bakar menolak dan mengatakan "Zubair suamiku pencemburu". Dan memilih melanjutkan perjalanan dengan membawa kurma yang ia panggul di pundaknya.
Betapa tulusnya ia menjaga suaminya yang tak berharta lebih, menjaga kehormatan diri dan menjaga yang dimiliki suami tanpa pamrih.
Dawuh Rasulullah
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (saat Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (tidak berbuat zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka” [HR Ahmad 1/191]
(Wallahu a'lam)
Untukmu yang benar benar menjaga dan sabar dalam penantian.. Izinkanlah nuranimu menyampaikan.. Anggaplah penantianmu sebagai jalan indah Rabb memberi pahala lebih atas kesabaranmu dalam menanti, jalan Indah Rabb membelajari diri sebelum benar-benar menjaga yang haq suatu saat nanti..
Dan merujuklah...
Betapa Romantisnya Rabb.. Membelajari ku tanpa materi, namun dengan lembut menguatkanku untuk menjaga hati. Menata dan menyiapkanku sebelum Rabb sampaikan kepada yang sejati.
Yakinku Ya Allah... Untuk apa semua ini, jika bukan jalan-Mu agar hamba berada di jalan wanita taat yang Telah Kau Siapkan Syurganya.
Wallahu a'lam
Laahaula walaa quwwata illaa billaah
InsyaaAllaahu Aaminiin
Laily Ma'rufatul Hidayah.
Allahumma sholli Wasallim Wabaarikh 'alaa Sayyidina Muhammad
Semoga bermanfaat,
Mohon fatihah untuk kami agar di ridhoi Allah Subhanahu wa Ta'ala
Comments
Post a Comment