Aku dan Kamu Berbeda?
Bismillaah..
Di balik pagar, tempat kecil yang biasa kami pakai melepas rindu dengan senja atau sekedar menengok cakrawala saat berembun ataupun saat b
erbintang. Anggunya suasana malam dengan kedamaian seolah mempersilahkan langit memperlihatkan pesonanya, sedangkan pada pagi dan siang awan menjadi satir keindahan sisi langit yang sesungguhnya.
" Amnaj'alulladziina Aamanuu wa'amilusshoolihaati kalmufsidhiina fil Ard, Amnaj'alul muttaqiina Kal fujjaar "
Pantaskah kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat? ( Shod: 28 ).
Pertanyaan Surat Shod menemani fikiranku menikmati malam. Berkutik sejenak, membuka ponsel mecari kemudi fikiran untuk meredam rasa penasaran.
Bibirku tersungging kecil melihat berlarik komentar di akun Instagram milik akhwat bercadar. Mendapati mereka yang setuju dan tidak setuju, menyuarakan apapun yang ingin diucapkan, seolah olah komentator-komentator dunia ini ingin sekali suaranya didengarkan.
Beberapa mengungkapkan ketakjuban,
Sebagian lagi menikam dengan kata kasar, seakan memuaskan kekesalan mendapati sosok asing yang dianggapnya penuh misteri bahkan sok suci.
Di era yang crowded dengan suasana kebarat baratan ini, ada sebagian yang mencari ketenangan menuruti himbauan hati yakni untuk meraih kenyamanan hidup sesuai kodrat yang ditetapkan. Di area nurani inilah insan teramat haus dalam menyusuri perjalanan. Sebut saja dengan proses hijrah, memang tak mudah menjalankan keterbalikan tabiat semula yang kemudian meluruskan sesuai syari'at bersumber dari Qur'an dan Sunnah. Dalam proses ini, mereka sangat membutuhkan naungan untuk menuntunnya menggapai tujuan.
Namun, tak jarang desas desus sindiran mengiringi perjalanan hijrah, terlebih kata itu juga mereka dengar dari sebagian orang berilmu yang pendapatnya tertutup dan mengarah pada kefanatikan. Atau teman akrab dulu yang mengungkit masa silam, yang sejatinya masa itu mendorongnya untuk menjadi lebih baik.
Manusia memiliki kecenderungan dan ketertarikan kepada hal yang ia sepakati atau dengan saudara yang berlapang mendengar ungkapanya. Alangkah baiknya, saudara seislam menuntun dan menjadi pendengar bijak atas apa yang mereka sampaikan, terkait hidayah ataupun hal lain yang memacunya ingin dekat dengan Allah Subhanahu Wata'ala.
Itu saja, seorang yang berpeluh mencari tempat teduh, akan menjadikanya lebih damai dan membenarkan keramahan muslim yang menjadi pamor islam di masyarakat.
Ibarat penjaga labirin yang menyamarkan pintu keluar, seketika pengunjung akan berbelok ke arah terbuka yang seolah menunjukan jalan keluar, namun pada akhirnya mereka tersesat dan tak sampai pada tujuan. Begitu pula dengan pehijrah, sejatinya ia mencari kelapangan saudara seIslam untuk menerima dan menunjukan kebenaran. Namun, tak sedikit yang memilih menelungkupkan tangan dan pada akhirnya membuat mereka berbalik arah. Mencari tangan yang bersedia menerima serta mencari yang sepakat dengan penampilannya tanpa tahu benar seluk beluk siapa yang sedang mereka hadapi. Kalau sudah seperti ini, jika mereka masuk kedalam perangkap pemberontak Islam atau menembus kelompok Islam garis keras yang semakin menipiskan kedamaian Islam tolerir, bagaimana kelanjutannya? Dan sebagai hamba seIslam, bukan tidak mungkin jika kita dimintai pertanggung jawaban kelak di Yaumul hisab.
Membuka gerbang menengok ruang yang di sajikan oleh alam. Diluar sana tak sedikit organisasi-organisasi yang menyemarakan perdamaian dan toleransi kepada non muslim karena kesadaran masyarakat bahwa mereka di beri keluasan atas hak beragama.
Jika bagi non muslim mudah mendapatkan toleransi, mengapa tidak untuk sahabat hijrah dan bercadar ?
Tidak salahkan jika memiliki keinginan untuk menjaga dari fitnah, malu jika dipandang dan lainya, ini bukan berarti PD lo yaa, soalnya banyak juga kawan yang bilang, kenapa sih pakai cadar.. siapa yang bakal liat.. Iya kalau lihat kamu.. Kamu aja yang ke- PD an.. Bhuffth..
Pernah suatu ketika kami mendengar kisah Sayyidah Fatimah dari majlis kajian bersama Buya Yahya.
Dalam halaqoh singkat itu beliau menceritakan kisah sayyidah Fatimah yang menangis tersedu saat melihat jenazah yang dipanggul diatas pundak orang -oprang yang mengantarakan ke pemakaman. Asma binti Khumaisy datang dan menanyakan perihal penyebab Sayyidah Fatimah menangis. Kemudian dalam tangisnya beliau mengatakan kekhawatirannya jika kelak juga dipanggul diatas mereka, lalu akan tampaklah lekuk tubuhnya sebab tidak tertutup apapun selain helaian kain kafan yang erat membungkus jenazah.
Kemudian Asma Binti Khumaisy menceritakan kesaksiannya ketika berhijrah di negeri Habsyah, beliau melihat jenazah yang dibawa ke kubur diletakan di sebuah tempat yang di sebut keranda, sekiranya bisa menutupi pandangan orang dari melihat lekuk tubuh jenazah yang di bawa.
Mendengar cerita Sayyidah Asma tiba-tiba tangis Sayyidah Fatimah terhenti, dan wajah beliau berubah berseri-seri sambil berkata, "Wahai Asma, sungguh aku berwasiat, jika aku mati nanti tolong buatkan aku keranda mayat seperti yang engkau ceritakan agar lekuk tubuhku tidak terlihat saat dibawa ke kuburan".
Dan benar setelah Sayyidah Fatimah wafat, maka dibuatlah keranda mayat untuknya.
MasyaaAllaah, mati saja difikirkan auratnya oleh Ibunda Tauladan kita, tentu beliau lebih menjaga semasa hidupnya.
Jadi.. Berfikir kalau ada yang memandang itu wajar kan? bukan karena PD, tapi sebagai ikhtiar menjaga. Karena menspesialkan senyuman dan raut wajah kepada yang halal untuknya juga menjadi pahala tersendiri bagi seorang wanita.
Hidayah adalah kemualiaan dari Allaah untuk hamba-Nya. Jika ada hamba yang berlapang menerima hidayah, bergegas mengolah untuk berbenah, meluruskan sesuai syariat bersumber Al Qur'an dan Sunnah, mengikat dijiwa untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan mengokohkan iman, InsyaAllah dukungan akan memudahkan meraih istiqomah dalam ketaatan. Pula, jika semangat berbenah lebih kuat setelah mendapat dukungan kita, InsyaAllah semangat ibadahnya pun akan mengalirkan jariah pula untuk kita.
Alhamdulillah sampai juga di ujung tulisan ini, penulis meminta maaf jika terdapat kesalahan dan semoga bermanfaat bagi pembaca.
Aamiiin
Laily Ma'rufatul Hidayah.
Bismillaah..
Di balik pagar, tempat kecil yang biasa kami pakai melepas rindu dengan senja atau sekedar menengok cakrawala saat berembun ataupun saat b
erbintang. Anggunya suasana malam dengan kedamaian seolah mempersilahkan langit memperlihatkan pesonanya, sedangkan pada pagi dan siang awan menjadi satir keindahan sisi langit yang sesungguhnya.
" Amnaj'alulladziina Aamanuu wa'amilusshoolihaati kalmufsidhiina fil Ard, Amnaj'alul muttaqiina Kal fujjaar "
Pantaskah kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat? ( Shod: 28 ).
Pertanyaan Surat Shod menemani fikiranku menikmati malam. Berkutik sejenak, membuka ponsel mecari kemudi fikiran untuk meredam rasa penasaran.
Bibirku tersungging kecil melihat berlarik komentar di akun Instagram milik akhwat bercadar. Mendapati mereka yang setuju dan tidak setuju, menyuarakan apapun yang ingin diucapkan, seolah olah komentator-komentator dunia ini ingin sekali suaranya didengarkan.
Beberapa mengungkapkan ketakjuban,
Sebagian lagi menikam dengan kata kasar, seakan memuaskan kekesalan mendapati sosok asing yang dianggapnya penuh misteri bahkan sok suci.
Di era yang crowded dengan suasana kebarat baratan ini, ada sebagian yang mencari ketenangan menuruti himbauan hati yakni untuk meraih kenyamanan hidup sesuai kodrat yang ditetapkan. Di area nurani inilah insan teramat haus dalam menyusuri perjalanan. Sebut saja dengan proses hijrah, memang tak mudah menjalankan keterbalikan tabiat semula yang kemudian meluruskan sesuai syari'at bersumber dari Qur'an dan Sunnah. Dalam proses ini, mereka sangat membutuhkan naungan untuk menuntunnya menggapai tujuan.
Namun, tak jarang desas desus sindiran mengiringi perjalanan hijrah, terlebih kata itu juga mereka dengar dari sebagian orang berilmu yang pendapatnya tertutup dan mengarah pada kefanatikan. Atau teman akrab dulu yang mengungkit masa silam, yang sejatinya masa itu mendorongnya untuk menjadi lebih baik.
Manusia memiliki kecenderungan dan ketertarikan kepada hal yang ia sepakati atau dengan saudara yang berlapang mendengar ungkapanya. Alangkah baiknya, saudara seislam menuntun dan menjadi pendengar bijak atas apa yang mereka sampaikan, terkait hidayah ataupun hal lain yang memacunya ingin dekat dengan Allah Subhanahu Wata'ala.
Itu saja, seorang yang berpeluh mencari tempat teduh, akan menjadikanya lebih damai dan membenarkan keramahan muslim yang menjadi pamor islam di masyarakat.
Ibarat penjaga labirin yang menyamarkan pintu keluar, seketika pengunjung akan berbelok ke arah terbuka yang seolah menunjukan jalan keluar, namun pada akhirnya mereka tersesat dan tak sampai pada tujuan. Begitu pula dengan pehijrah, sejatinya ia mencari kelapangan saudara seIslam untuk menerima dan menunjukan kebenaran. Namun, tak sedikit yang memilih menelungkupkan tangan dan pada akhirnya membuat mereka berbalik arah. Mencari tangan yang bersedia menerima serta mencari yang sepakat dengan penampilannya tanpa tahu benar seluk beluk siapa yang sedang mereka hadapi. Kalau sudah seperti ini, jika mereka masuk kedalam perangkap pemberontak Islam atau menembus kelompok Islam garis keras yang semakin menipiskan kedamaian Islam tolerir, bagaimana kelanjutannya? Dan sebagai hamba seIslam, bukan tidak mungkin jika kita dimintai pertanggung jawaban kelak di Yaumul hisab.
Membuka gerbang menengok ruang yang di sajikan oleh alam. Diluar sana tak sedikit organisasi-organisasi yang menyemarakan perdamaian dan toleransi kepada non muslim karena kesadaran masyarakat bahwa mereka di beri keluasan atas hak beragama.
Jika bagi non muslim mudah mendapatkan toleransi, mengapa tidak untuk sahabat hijrah dan bercadar ?
Tidak salahkan jika memiliki keinginan untuk menjaga dari fitnah, malu jika dipandang dan lainya, ini bukan berarti PD lo yaa, soalnya banyak juga kawan yang bilang, kenapa sih pakai cadar.. siapa yang bakal liat.. Iya kalau lihat kamu.. Kamu aja yang ke- PD an.. Bhuffth..
Pernah suatu ketika kami mendengar kisah Sayyidah Fatimah dari majlis kajian bersama Buya Yahya.
Dalam halaqoh singkat itu beliau menceritakan kisah sayyidah Fatimah yang menangis tersedu saat melihat jenazah yang dipanggul diatas pundak orang -oprang yang mengantarakan ke pemakaman. Asma binti Khumaisy datang dan menanyakan perihal penyebab Sayyidah Fatimah menangis. Kemudian dalam tangisnya beliau mengatakan kekhawatirannya jika kelak juga dipanggul diatas mereka, lalu akan tampaklah lekuk tubuhnya sebab tidak tertutup apapun selain helaian kain kafan yang erat membungkus jenazah.
Kemudian Asma Binti Khumaisy menceritakan kesaksiannya ketika berhijrah di negeri Habsyah, beliau melihat jenazah yang dibawa ke kubur diletakan di sebuah tempat yang di sebut keranda, sekiranya bisa menutupi pandangan orang dari melihat lekuk tubuh jenazah yang di bawa.
Mendengar cerita Sayyidah Asma tiba-tiba tangis Sayyidah Fatimah terhenti, dan wajah beliau berubah berseri-seri sambil berkata, "Wahai Asma, sungguh aku berwasiat, jika aku mati nanti tolong buatkan aku keranda mayat seperti yang engkau ceritakan agar lekuk tubuhku tidak terlihat saat dibawa ke kuburan".
Dan benar setelah Sayyidah Fatimah wafat, maka dibuatlah keranda mayat untuknya.
MasyaaAllaah, mati saja difikirkan auratnya oleh Ibunda Tauladan kita, tentu beliau lebih menjaga semasa hidupnya.
Jadi.. Berfikir kalau ada yang memandang itu wajar kan? bukan karena PD, tapi sebagai ikhtiar menjaga. Karena menspesialkan senyuman dan raut wajah kepada yang halal untuknya juga menjadi pahala tersendiri bagi seorang wanita.
Hidayah adalah kemualiaan dari Allaah untuk hamba-Nya. Jika ada hamba yang berlapang menerima hidayah, bergegas mengolah untuk berbenah, meluruskan sesuai syariat bersumber Al Qur'an dan Sunnah, mengikat dijiwa untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan mengokohkan iman, InsyaAllah dukungan akan memudahkan meraih istiqomah dalam ketaatan. Pula, jika semangat berbenah lebih kuat setelah mendapat dukungan kita, InsyaAllah semangat ibadahnya pun akan mengalirkan jariah pula untuk kita.
Alhamdulillah sampai juga di ujung tulisan ini, penulis meminta maaf jika terdapat kesalahan dan semoga bermanfaat bagi pembaca.
Aamiiin
Laily Ma'rufatul Hidayah.
Allahumma sholli Wasallim Wabaarikh 'alaa Sayyidina Muhammad
Semoga bermanfaat,
Mohon fatihah untuk kami agar di ridhoi Allah Subhanahu wa Ta'ala
Comments
Post a Comment