Dia My Jannah.

"Pak, tolong berhenti di masjid sebentar nggeh," ucapku pada sopir. 

Siang itu terik sekali, debu-debu nampak menari riang di antara deretan mobil di jalanan. Suasana sejuk di dalam masjid teramat mendukung sayup mataku. Lelah sekali. Kupejam sebentar bola mataku. Ah, sayang sekali perpisahan dengan kawan pesantren semalam masih saja melayang-layang dan menutup pintu masuk ruang mimpiku.
      Surabaya, kota yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. Terlalu singkat memang, mengingat sore lalu aku masih di dapur pesantren menyiapkan buka puasa. Kedatangan ayahku selepas maghrib kemarin, tanpa sebuah rencana ternyata menjadi akhir ceritaku dengan pesantren kebanggaan kami di Bojonegoro. Semula, sudah kulepas mimpiku dari mengharap kelulusan beasiswa kuliah sembari menghafal Al Qur'an di sebuah Yayasan. Mungkin teramat mengejutkan, namun tak ada yang terlewat dari kehendak Tuhan. Apapun itu, antusias kusambut lembaran baru takdir hidupku. 
     Kemarau Agustus 2017, menjadi awal kumenyapa kota pahlawan. Setibanya di tempat, aku bersama ayah di antar menuju ruangan tak terlalu besar namun tampak rapi dan lengkap dengan pendinginnya. Sebelum Bapak berpamitan, kusempatkan menanyakan sesuatu yang sedari tadi kupendam dan memilih ingatan lain untuk meredamnya.

"Bapak, Kenapa aku di antar kesini?. Bukankah kemarin bapak memintaku untuk menikah?," dengan raut yang lebih tersipu, kulanjutkan. 


"Bagaimana denganya, calon tunanganku ?".


"Tidak apa, awalnya Bapak hanya menghargai gurumu. Di tengah hujan lebat Pak Ridwan datang ke rumah, beliau bahagia sekali mendengar kau lolos beasiswa. Bapak rasa ini yang terbaik, lagi pula sepertinya Ujang masih sibuk dengan tugas dakwahnya di Pesantren ".

 Selanjutnya, bapak menyampaikan beberapa pesan. Ingin sekali kutitihkan air mata, tapi tidak. Sedari kecil terlalu gengsi bagiku menitihkan air mata di depan orang lain, tak terkecuali orang tuaku. Di ujung katanya, Bapak menyambung bahasan tadi yang masih mengambang. 


"Kau sampaikan saja pada Ujang, semoga ia berkenan menanti. Jika tidak, ini hanya jalan agar kau tak salah surga".

Belum sempat kutanyakan maksud di ujung petuah Bapak, "Dek, mari kuantar ke kamarmu," sapa seorang pengurus pesantren mengakhiri percakapanku dengan bapak. Setelah dari kamar, kutengok Bapak sudah tak di tempat tadi. Sedikit sesak dadaku, sudahlah mau meratap jua takkan kudapat. 


"Hei, masih berdiri saja kau di situ. Ayo jongkok," 

Bentak panitia ospek mengagetkan air mataku hingga ia tak mampu keluar dan memilih mengalihkan dengan wajah tegar. Aku memang tak ahli di bidang ekspresi. Bagi mereka yang lama mengenalku, mereka menyebutku tomboy. Sedangkan bagi mereka yang baru mengenalku, katanya aku anggun dan cupu. hahaha.

        Serangkaian ospek telah kutempa. Aku pun mendapatkan cukup banyak kawan baru. Ingin kukeluhkan rasa sakit akibat lelah yang mendera. Tapi nampaknya kawanku pun sama saja. Kami memilih melipur letih dengan bercanda bersama. 

          Adzan maghrib berkumandang. Suara merdu di balik satir masjid begitu menyeruak kalbu. Tanpa basa-basi beberapa temanku mencari ruang sempit di badan kelambu satir untuk sekedar melihat siapa pemilik suara sejuk itu. Sedangkan aku, tetap memasang wajah gengsi walau sebenarnya sedikit menyeka air mata. Kuakui, suara itu memang sejuk sekali. Tibalah waktu sholat, masih dengan suara yang sama kudengar lantunan ayat suci Al Qur'an begitu merdu mendayu hingga sanubariku. Tak ada lagi gengsi, karena sholatku hanya aku dan Tuhanku yang tahu. Air mata yang sedari lama kutahan, kian berderai sembari kuadukan dalam hati kisah hidup yang penuh teka-teki. 


         Malam berganti siang, rona senja Surabaya mulai menjadi pemandangan yang biasa untukku. Namun tak bosan, kupandang langit sebagai tempat memutar kisah yang telah berlalu. 

          Masih teringat, tepat sebulan lalu ketika liburan pesantren seorang pemuda mengetuk pintu rumahku. Ujang, seorang santri dari Semarang yang sedang tugas dakwah di desaku. Ia mengutarakan niatnya untuk berta'aruf. Jauh hari sebelum ia datang, Ibu sempat menceritakan tentangnya. Di mata ibu, ia teramat berwibawa. Ilmunya yang cukup dan amanah dengan mengemban dakwah, bagi Ibu ia cukup untuk menjadi imam rumah tanggaku kelak. 


"Yang ini beda dari sebelumnya, Ibu harap kamu mau ya," 

pinta Ibu kala itu. Mungkin beliau takut setelah sekian pemuda yang kutolak karena alasan tidak cocok, malas nikah, dan lain sebagainya. 


"Mbak Hida ini Ujang, Mas Ujang ini Mbak Hida. Insya Allah berniat untuk ta'aruf,"

 Bu Ni'mah seorang yang menjembatani ta'aruf kami membuka percakapan. Aku masih enggan melihatnya. Gurauan khas desa meramaikan ruang tamu kami. Di sela percakapan ibuku dan Bu Ni'mah, 
malu-malu kutemukan tatapanku dengan orang asing itu. 

"Yaa lumayanlah, sepertinya ia juga orang baik," gumamku dalam hati".

 Di tengah perbincangan, Ibu meminta izin untuk menyiapkan hidangan tamu. Aku pun mengikutinya dan membantu menyiapkan hidangan di dapur. 


"Bu, permisi mau ke kamar kecil," kata Ujang. 
"O nggeh, silakan," antusias Ibu mempersilakan Ujang, sambil mengedipkan matanya padaku. Entahlah.. 

Dengan kaki yang masih basah, Ujang mendekatiku yang sedang mengupas beberapa bawang putih. Sempat ia berbincang sedikit dengan Ibu sembari meminjam pisau yang ada digenggamannya. Ia pun turut duduk berjarak denganku sambil membantu mengupas bawang.

"Gimana Dek?, kalau kamu mau Insya Allah saya komitmen sama keputusanmu," kata Ujang masih sembari mengupas bawang. 
"Monggo kerso panjenengan ( terserah baiknya saja )," jawabku. 
"Pilihannya iya atau tidak Dek, saya tunggu jawabanya nggeh," sahutnya. 

Hingga hampir habis bawang putih dikupasnya, aku belum juga memberi jawaban. Tersadar bawang putih simpanan Ibu sisa beberapa butir, segera ku iyakan pintanya. Lagi pula Ibu sudah berpesan padaku, berat untuk menolaknya. 
"Alhamdulillah," jawab Ujang mengakhiri percakapan perdana kami. Kemudian ia menyempatkan menyapa ibu dan berlalu menuju ruang tamu. 

     Selepas dari pertemuan itu hingga saat ini, aku masih belum yakin bahwa ia akan menjadi jodohku, tempat kuabdikan segala yang kupunya suatu saat nanti.

 Kuhentikan lamunan dan kembali kubaca Qur'an. Belum genap Basmallah selesai kubaca,  seorang gadis imut menyapaku. 


"Hai Hida, kamu yang dari Bojonegoro ya?," sapanya. "Iya Mbak," jawabku. 
"Aku Rina, dari Bojonegoro juga, saya dapat amanah dari Ahmad Saudaramu, ia memintaku untuk membantu menjagamu". 
"Maaf kak, Ahmad siapa ya?," aku menyela di tengah kalimatnya, menyampaikan rasa heranku karena tak merasa memiliki saudara di Yayasan ini. 

"Ahmad, dia yang biasa adzan dan jadi imam sholat itu loh," jawabnya. Aku masih saja mengerutkan kening. 

"Sudahlah, maaf saya masih ada tugas. Kalau ada kebutuhanmu yang kurang, jangan malu sampaikan sama saya ya". 

Sambil meninggalkan senyum, kakak senior itu berlalu meninggalkanku yang masih memutar ingatan tentang Ahmad namun tak berujung jua. 


       Malam itu, jadwal kegiatan sosialisasi dan motivasi. Sampai pada sosialisasi tentang masjid, si pemilik suara sejuk itu menyampaikan pidatonya. Ia buka kalimatnya dengan memperkenalkan diri. 
"Nama saya Ahmad Khoirur Roziqin, kawan-kawan biasa memanggil saya Ahmad. "
Ahmad, gumamku dalam hati. Belum selesai kumelamun, kak Rin memanggilku dari belakang. 


"Hida, itu Ahmad, yang kemarin kusampaikan padamu," katanya sambil berbisik. Tanpa membalas, kembali kupusatkan mataku padanya. 

Ahmad. Ia manis, rambutnya lurus hitam, bibirnya merah, takaran yang pas jika di sajikan bersama suaranya yang syahdu. Terlepas dari rasa heranku, tanpa sadar kalbuku mengambil alih, "Andai ibu belum mempertemukanku dengan Ujang, aku pasti menyukainya," "Astaghfirullah," bibirku menepis gumam nakalku. Kufokuskan kembali pada bahasan yang disampaikan Ahmad, dan memilih mengubur rasa yang sempat menyelinap.

  ------***------

     Empat bulan berlalu, tiba masa liburan perdana dari Yayasan untuk santri baru. Entahlah, nama Ahmad masih saja turut serta di tepian hatiku. Mungkin karena heran dari mana ia mengenalku. 

     Terlepas dari itu, Ujang sempat menyampaikan ia akan ke rumah saat liburan. Benar jua, beberapa hari berlalu Ujang datang ke rumah. Ibu dan Ayah memberi waktu padaku untuk berbincang berdua. Tentunya dengan jarak yang tak berdekatan. Tetapi kali ini ia berbincang tentang masalah dakwahnya. Entahlah, aku tak begitu memahami, anggunkanku bukan karena faham namun sebatas menghargai saja. 

        Rintik hujan yang semula setitik, benar-benar membasahi malam itu. Karena sudah larut, terpaksa Ujang menginap di rumah. Ku persilahkan ia tidur di ruang keluarga dan aku yang masih tak tenang mencoba memejamkan mata di ruang tamu. Pintu utama sengaja kubuka, bertujuan untuk menghindari fitnah.

                               ------*****-----.


       Di sepertiga malam, kusempatkan bermunajat. Sedikit kusemogakan dalam hati, berharap dapat mendengar bacaan Al-Quran si Ujang untuk lebih memantapkan niat sebelum kami terikat pernikahan. Entah mengapa nama Ahmad masih jua menggeliat. Melalui Istikhoroh kusampaikan pada Pencipta cinta, agar Ia dekatkan yang menjadi jodohku dan menjauhkan yang tak berhak atasku. Adzan Shubuh berkumandang, Ujang pun terbangun dan mengajaku sholat berjamaah. Benar saja, kudengar dengan seksama bacaan Al Qur'an Ujang, namun tak jua sampai pada kedamaian seperti ketika kudengar lantunan suara Ahmad. 

       Mentari pagi mulai mengikis gelap malam. Setelah sarapan, Ujang berpamitan untuk segera pulang. Beberapa menit selepas suara motor Ujang menghilang, kuterima pemberitahuan dari hand phone jadulku. Nampak sekilas nama Ahmad Khoirur Roziqin menyematkan pesan singkat di akun facebookku. 


"Assalamu'alaikum Dek," sapaan akrab senior kepada junior. 
"Wa'alaikumussalam Kak," jawabku. 
"Maaf Dek, saya Ahmad. Kemarin selepas mengantar sebelum Ayahmu pulang, beliau sempat berbincang dan menitipkanmu padaku, kebetulan saya dari  Bojonegoro juga,".
"Oo iya Kak terima kasih,". "Sekedar itu", gumamku dalam hati. 
"Dek, besok waktu kembali ke Surabaya, mungkin ada yang bisa dibantu?".
"Mungkin bisa minta tolong pesenin taksi online, bolehkah?". "Baik, Insya Allah,". 
Senyum tak tersampaikan dari bibirku, menutup pesan singkat itu. 

    Tiba di penghujung liburan, tiba pula waktu untuk kembali ke perantauan. Senyum Ibu dan Bapak teramat menguatkan. Meski suara sendu Ibu tak mampu menipu, ia sedang membendung air mata. 


    Tak terasa, tibalah di terminal Surabaya. Nampak sekali wajah cupuku kala itu, maklum kaki kampung ini baru pertama kali melakoni perjalanan sendiri ke luar kota. .Biasanya bapak selalu menemani. Ah, aku sudah dewasa. 

      Dari kejauhan Ahmad melambaikan tangan, tak luput senyum manis menyertainya. 

"Dek, kuantar sampai tempat menunggu Taksi online ya,". "Baik," jawabku. Tak menunggu lama taksi yang kutunggu telah datang. Aku bergegas masuk bersama barang-barangku yang menumpuk. Sedikit Ahmad berpesan kepada sopir taksi, "Pak tolong jaga Adek saya ya," seraya tersenyum kepadaku. 

Meski tak ada kata yang terucap, senyumnya sudah cukup untukku. Desir kalbu hampir saja tak mampu kubendung, namun aku tak berani mengartikan senyum yang belum tentu menjadi milikku. 

    Derap langkah kian hari kian pasti, tak pernah berkata lelah menemani merajut asa di bumi pertiwi. Bulan berganti, tahun berlalu. Tiba masa bagi santri angkatan kami dikirim untuk magang ke tempat lain sebelum wisuda. Namun, ada sedikit yang mengganjal dikalbuku, bukan karena tempat magang. Tapi, Entahlah.. beberapa hari ini tak kudengar suara Adzan Ahmad. 

"Hida," Kak Rin menyapaku. "Ciyee sudah magang, selamat ya," senyum di pipi cabinya turut menggoda. "Ada pesan dari Ahmad, jaga dirimu. Kebetulan ia sedang sakit beberapa hari ini". Kalimat terakhir dari kak Rin mengubah raut wajahku yang semula tersenyum membalas sapaannya. Entah sejak kapan ekspresiku mulai sesuai dengan hati, entah rasa apa yang telah mengubah kepribadianku. Tomboy? Mungkin tidak lagi. 

     Sebelum hari pemberangkatan, kusempatkan membuat kue kecil untuk Ahmad, kuselipkan secarik kertas bertuliskan ucapan terima kasih. Ingin hati berkata lebih, namun semesta belum mingizinkan sanubari berdalih. 

***


    Semenjak masa kuliah dan magang, sama sekali tak kuterima kabar tentang Ujang. Entah bagaimana kabarnya, hati kecilku justru berharap ia tak kembali. Ah...

    Tiga bulan berlalu, usai sudah masa magangku. Tiba waktunya kami kembali ke Surabaya untuk persiapan wisuda. Kuterima pesan dari Ahmad. 
"Dek, sesi foto wisuda tolong tunggu saya ya, saya ingin foto bersama keluargamu,". "Insyaa Allaah Kak," jawabku singkat. Masih saja kusimpan raut senyum ini, sebab belum ada hak untuk kusampaikan padanya.

     Usai wisuda Ahmad lebih akrab dengan keluargaku. Benar saja, tak berselang lama ia datang ke rumah. Nampak di sisi kanannya pria paruh baya mendampingi. 


"Assalamu'alaikum,"  Ayah Ahmad mengawali. "Wa'alaikumussalam monggo ( silakan )," sahut Ibuku dengan logat Jawanya. 


"Eh nak Ahmad," Ayahku nampak girang menyambutnya. 

"Mohon maaf jika kehadiran kami mengganggu dan merepotkan, maksud kami kemari ingin menyampaikan hajad dari anak kami Ahmad, yakni untuk meminang putri bapak, Hida," tanpa berbelit kata Ayah Ahmad menyampaikan hajadnya. 

Tangan bersambut, Ibu memahami raut wajahku yang sumringah. Sebelumnya, memang sempat kuceritakan tentang Ahmad kepada ibu. Syukurlah, Ibu mendukung. Awalnya sedikit ragu, mengingat Ujang yang belum juga memberikan kepastian. 

"Alhamdulillah, Insya Allah hajad bapak dan nak Ahmad kami terima dengan tangan terbuka," jawaban Ibu mencairkan suasana yang sempat tegang. Kulihat Ahmad, tersenyum manis sembari berlirih "Alhamdulillah". 

Seketika itu pula, pertemuan dua keluarga ini juga menentukan waktu pernikahanku dengan Ahmad. Alhamdulillah. 

      Selang beberapa waktu dari pinangan Ahmad, Ujang mengirimkan temanya ke rumah. Yakni hendak menanyakan apakah aku masih dalam penantian kepadanya. Tanpa ragu Ibu menyampaikan dan berterus terang tentang rencana pernikahanku dengan Ahmad. Dengan wajah yang sedikit kecewa, kawan Ujang berbalik arah dan berpamitan kepada kami. 

Tak lama dari kunjungan sahabat Ujang, kudengar Ujang telah melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis pilihan gurunya. Syukurlah...

      Kicauan burung bersambut riang, dedahan pohon menari manja tertiup angin pagi. Seoalah pertiwi turut serta bahagia melihat dua insan yang akan bersatu di pelaminan. Hari itu, hari yang teristimewa dalam hidupku. Ahmad, pria yang diidamkan sanubariku sejak lama, akhirnya mengucapkan ikrar akad untuk menghalalkanku. 


    Tibalah pada sesi sungkeman. Di pangkuannya Bapak berkata, 

"Nak, cinta karena Allah takkan salah surga," ku sambut pesan ayah dengan senyuman sebagai isyarat memahami pesan singkat semasa mengantarkanku ke Surabaya dulu. 

    Puji syukur tak terkira kuhaturkan pada Penguasa cinta. Menyatukan hati yang saling berdiskusi melalui munajat, mengikat sanubari yang saling berbincang dari kejauhan.


       Gelap menggulung pancaran cahaya. Malam pun tiba, malam pertamaku disisi pria yang kudamba. 

"Dek, sudah halal ya, " ucap Ahmad dengan senyumnya yang begitu dekat seakan menggodaku.

  
Dear Suamiku. 
Semerbak wangi yang mengangkasa. 
Mengurai makna rindu dan cinta.

Bertengger di dahan kasih nan mesra. 

Tersenyum tenang akan rasa yang di genggam Sang Kuasa.

Pena tak mampu melukis keseluruhan artinya. 
Hanya percikan tinta yang berusaha menggambar serpihan bahagia.
Sedikit kubercurah akan senyum yang melimpah. 
Memaknai rasa yang didamba, berujung pada Ijab yang sah.

Dalam hati yang berdegur serta do'a yang teratur, 
ada cinta yang tak terukur.
Aku bertemu kasih titipan Illaah,
Memeluk anugrah berupa senyum yang merekah. 
Tersipu hati seakan di tampakkan Roudloh Jannah.

Meniti hidup berharap rahmah dan berkah. 
Memuncakan rindu yang lama menenengadah. 
Semoga do'amu serta tercurah, wahai insan pembawa syafa'ah, 
kepada kami yang melangkah teruntuk mengikuti sunnah.

Dari Istrimu, Laily Ma'rufatul Hidayah untuk Suamiku Ahmad Khoirur Roziqin, My Jannah.

Hari Kemerdekaan Cinta, Bojonegoro, 29 Maret 2020.

Cerita ini hanya sebagian kecil dari kisah kami. Ada banyak perjuangan yang belum saya tulis. Dan Insyaa Allaah akan saya tulis di novel singgle saya. Do'akan ya. 



Comments

Popular posts from this blog